​Abdul Malik Karim Amrullah

By | August 13, 2016

NeuroTouch – ​Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka adalah seorang ulama, politisi, dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia hingga Timur Tengah. Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat. Hamka mewarisi darah ulama dan pejuang yang kokoh pada pendirian dari ayahnya yang dikenal sebagai ulama pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau serta salah satu tokoh utama dari gerakan pembaharuan yang membawa reformasi Islam (kaum muda).
Nama Hamka sendiri merupakan akronim dari namanya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan sebutan Buya adalah panggilan khas untuk orang Minangkabau. Kata Buya sebenarnya berasal dari kata abi, atau abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku atau orang yang dihormati. Berkat pengabdian dan sumbangannya dalam membangun kesadaran umat Islam dan cita-cita bangsa, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2011.

– SIKAP HIDUP BUYA HAMKA –
Sejak kecil, sosok Hamka sudah mendapatkan banyak cobaan hidup. Orang tua Hamka bercerai ketika beliau masih membutuhkan kasih sayang keduanya. Kedua, Hamka yang saat itu dikenal sebagai sosok yang rupawan tiba-tiba terkena penyakit cacar. “Kalau waktu itu tidak tahan, saya bisa lari dari Padang Panjang. Mungkin jadi pengemis,” katanya. Ketiga, banyak anak-anak sekolah untuk kelompok masyarakat kelas atas sering melecehkan anak-anak Sekolah Desa dan Sekolah Agama. Keempat, beliau sering diejek karena kemampuan bahasa Arab yang beliau tidak bagus dan banyak yang salah. Kelima, Beliau juga pernah ditolak jadi guru di sekolah Muhammadiyah hanya karena tidak memiliki diploma sebagai tanda tamat belajar. Oleh karena itu semua, Hamka bertekad untuk terus belajar dan membaca, walaupun mungkin untuk seumur hidupnya.
Hamka memiliki beberapa pengalaman yang tidak terlupakan ketika memimpin perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan hingga menempuh perjalanan dengan berjalan kaki mengelilingi Sumatera Tengah. 

Pertama, ketika itu Hamka, Ichsan, dan seorang penunjuk jalan tengah memasuki hutan. Perjalanan mereka terhenti di tengah jalan setapak. Di depan mereka, berjarak sekitara tiga puluh meter, di bawah pohon besar, mereka melihat seekor harimau betina sedang menyusui tiga ekor anaknya. Mereka takut bukan kepada si induk harimau, namun bila tiba-tiba harimau jantannya muncul dari belakang mereka. “Kalau itu terjadi, pastilah kami dicabik-cabik olehnya,” katanya. Alhamdulillah semua berjalan dengan selamat. 
Kedua, ketika mereka baru saja keluar dari Rimba Ranah yang terkenal angker, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara banyak orang yang berbicara. Ternyata orang-orang itu adalah patroli Belanda. Tentara Belandanya hanya satu orang, sisanya orang Indonesia. Mereka segera mencari tempat bersembunyi. Di dekat mereka ada sebuah kubangan yang banyak airnya, lalu mereka bertiga bersembunyi di kubangan tersebut. Patroli itu berhenti di bawah pohon beringin, mereka beristirahat sambil makan bekal mereka. Ada beberapa serdadu yang buang air di balik pohon itu. Untungnya mereka tidak buang air di kubangan tempat Hamka dan kawan-kawan bersembunyi. Lebih dari satu jam para patroli beristirahat sebelum mereka melanjutkan perjalanannya.
Selama berendam di dalam kubangan, Hamka dan kawan-kawan merasakan pedih-pedih di sekujur tubuh. Ketika mereka keluar dari kubangan, ternyata tubuh mereka bertiga telah dipenuhi oleh lintah-lintah yang mengisap darah mereka. Lintah yang sudah kenyang jatuh dengan sendirinya. Mereka bergantian membuang lintah-lintah yang masih menempel di badan.
Ada juga satu pengalaman yang membuat Hamka gentar, bahkan Ichsan sampai terkencing-kencing di celana saking ketakutannya. Ketika itu mereka bertiga berada di tepi rimba dekat Balingka. Mereka melihat sebuah lepau. Kemudian mereka melangkah menuju lepau itu untuk melepas lelah dan makan. Hampir sehari mereka berjalan. Rupanya di dalam lepau banyak orang sedang makandan terdengar mereka berbincang-bincang mengenai perjuangan melawan Belanda. Karena lepau itu penuh pengunjung, Hamka dan Ichsan berjongkok saja di dekat lepau tersebut untuk beristirahat. Tiba-tiba tiga orang pemuda muncul dari belakang lepau muncul dari belakang lepau membawa senjata api sambil membentak.

“Angkat tangan! Cepat Berdiri! Siapa kalian?” Salah seorang pemuda menodongkan bedilnya kepada Hamka dan Ichsan.

“Kalian berdua mata-mata Belanda, mengintai kami ya?” bentak pemuda yang lain.

Kawannya yang satu lagi berkata kepada temannya yang bertanya tadi, “Sudah! Mereka pasti mata-mata Belanda. Langsung saja di-dabeih!”

Mendengar itu, Ichsan yang sudah biasa mendengar mata-mata Belanda hukumannya di-dabeih (disembelih tidak memakai pisau tajam, melainkan memakai seng yang diberi gerigi, sehingga yang di-dabeih akan sangat menderita sebelum mati) sampai terkencing-kencing dalam celana.

“Jangan dulu. Kita bawa menghadap komandan,” salah seorang pemuda itu menyarankan.

Hamka dan Ichsan kemudian dibawa masuk hutan. Tidak jauh dari lepau ada pondok. Di muka pondok tampak seorang pemuda tidak memakai baju sambil mengipas-ngipas badannya.

“Lapor komandan, kami menangkap dua orang ini. Agaknya mata-mata Belanda.” Lapor si pemuda.

“Suruh buka tudung kepalanya!” Perintah si komandan.

Dengan kasar, pemuda yang mengusulkan dabeih tadi membuka tudung kepala Hamka. Ketika tudung pandan itu terbuka, sang komandan terkejut.

“Ini Buya Hamka! Saya kenal beliau. Lihatlah kepalanya sulah, dan di kening ada tanda hitam bekas sujud,” kata si komandan.

Si komandan langsung turun dari pondok kemudian menyalami Hamka dan Ichsan. Pasukan TKR yang menangkap Hamka bertangisan. Lebih-lebih pemuda yang menganjurkan dabeih tadi. Malam itu Hamka dan Ichsan bermalam di pondok sang komandan.

– PEGANGAN HIDUP BUYA HAMKA –
Dalam perjuangannya, Buya Hamka sangat menghayati sebuah pantun karya Datuk Panduko Alam dalam buku Rancak di Labuh yang berbunyi:

“Putuslah tali layang

Robek kertasnya dekat bingkai

Hidup nan jangan mengapalang

Tidak punya berani pakai”

Pantun tersebut sangat membakar darah Hamka dalam perjuangan. 

Kedua, Hamka tidak tamat sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah agama. Hamka merasa sangat malu karena tidak mempunyai diploma. Maka dari itulah beliau harus mengejar ketinggalan itu dengan belajar sendiri. Harus berani dalam menghadapinya.

Pegangan hidup Hamka yang lainnya dalam menghadapi perjuangan hidup adalah “niat karena Allah, nasi sabungkuih dan tinju gadang ciek”. Artinya, niat karena Allah harus diyakini, tidak terombang-ambing dengan niat yang lain. Kegiatan apapun yang kita lakukan, jangan lupa kesiapan logistik. Sekecil apapun, walau hanya sebungkus nasi. Dan yang terakhir, jangan pernah merasa takut, gentar, mudah menyerah. Harus tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan berpikir jernih.
***
Bila kita melihat kondisi negeri kita saat ini, rasanya apa yang dikatakan Buya Hamka tersebut masih sangat relevan untuk dijadikan pedoman; semua orang harus meluruskan niat, menjalankan kehidupan semata karena Allah. Tidak terkecuali bagi para pejabat publik agar tidak menyimpang ketika kekuasaan telah diamanahkan oleh rakyat.

Sungguh, rasanya sangat rindu akan kehadiran tokoh-tokoh dan ulama-ulama yang berjuang tulus demi keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Sumber utama: Buku “Ayah” karya Irfan Hamka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *